Anambas Mulai Angkat Wisata Kuliner Berbahan Sagu

ANAMBAS – Selama ini, makanan dengan bahan dasar sagu identik dengan kawasan Indonesia Timur. Padahal, wilayah barat Indonesia juga memilikinya. Tepatnya di Anambas, Kepulauan Riau. Anambas dikenal sebagai sentra penghasil sagu. Tak heran jika daerah ini memiliki banyak kuliner hasil olahan sagu.

Kuliner hasil olahan sagu milik Anambas sudah diperkenalkan dalam Festival Padang Melang 2019, 17-20 Juli lalu. Respons wisatawan pun luar biasa. Rencananya, tahun depan Festival Padang Melang akan menggulirkan konten khusus Sagu.

“Sagu sebenarnya menjadi potensi bagi Anambas. Tanaman tersebut banyak dijumpai di sana. Dan, kuliner turunan dari Sagu sangat banyak di Anambas. Cita rasanya nikmat. Bila dikembangkan optimal, kuliner olahahan sagu akan jadi daya tarik lain bagi wisatawan,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani, Selasa (6/8).

Sagu banyak dijumpai di wilayah Ulu Maras, Jemaja Timur, Anambas. Pohon tersebut tumbuh liar. Berkembangnya pohon sagu di Anambas, tidak lepas dari Kerajaan Riau-Lingga. Sebab, Imperium Melayu tersebut selalu fokus pada 3 tanaman, yaitu Sagu, Kayu Sepang, dan Rampah-Rempah.

Ada beragam kuliner dari sagu yang dihasilkan. Namanya unik. Tapi cita rasa yang dimilikinya juara. Kuliner turunan Sagu seperti, Kebuyut, Liping Sagu, Lakse, Kernas, Kerupuk Atom, dan banyak lainnya. “Kuliner dengan bahan baku Sagu sangat banyak. Bagi wisatawan, kuliner ini harus dicoba bila berkunjung ke Pulau Jemaja, Anambas,” terang Rizki.

Kebuyut menjadi sajian yang wajib dicoba. Kebuyut serupa dengan Papeda. Proses pembuatannya relatif sama. Bahan bakunya, Tepung Sagu, Air, Garam, dan Gula. Cara membuatnya, cairkan Tepung Sagu dengan air lalu tambahkan Garam dan Gula. Rebus air hingga mendidih, lalu tuangkan sembari diaduk secara berulang hingga merata.

Kebuyut biasanya dinikmati bersama sayur jantung pisang. Atau bisa juga dimakan dengan kuah ikan. Rizki menambahkan, Kebuyut atau Papeda asal Jemaja, Anambas, sangat nikmat.

“Kuliner dari hasil olahan Sagu dari Pulau Jemaja, Anambas, sangat nikmat. Apalagi, bila penyajiannya masih hangat. Bagi wisatawan, silahkan eksplorasi kekayaan kuliner Anambas dengan bahan baku Sagu,” lanjut Rizki.

Selain Papeda versi Anambas, kuliner lainnya yang wajib dicoba tentu Liping Sagu. Kuliner Liping Sagu memiliki bahan baku Tepung Sagu, Kelapa Muda, dan Ikan Salai (Tongkol). Bumbunya ada Bawang, Cabai, dan Garam. Cara membuatnya, seluruh bahan dicampur lalu disangrai hingga masak. Berikutnya, komposisi bahan tersebut dipadatkan hingga pipih atau bulan. Kuliner pendampingnya bisa Sup Ikan.

“Kuliner dengan bahan baku Sagu memiliki potensi sangat besar. Kalau dioptimalkan lagi, pasti akan menjadi industri menjanjikan secara ekonomi. Sebab, beberapa kulinernya sangat otentik dan khas dari sana. Kalau dikembangkan lebih besar, tentu bisa membuka lapangan pekerjaan,” jelas Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati.

Kuliner unik dan menarik yang bisa dieksplorasi lainnya adalah Lakse. Bentuknya bulat putih dan tebal. Lakse khas Anambas memakai banyak bumbu dan racikan rempah. Sajiannya unik dan nikmat dengan campuran daun Semangko. Sajian mie ini cocok buat sarapan dan makan siang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Anambas Masykur mengatakan, optimalisasi kuliner Sagu akan dilakukan.

“Pohon Sagu memnag snagat banyak di sini. Sebenarnya bisa saja dikembangkan sebagai industri dalam skala besar. Kalau ada investor tertarik, silahkan saja. Sagu di sini masih tumbuh liar. Rencananya untuk Festival Padang Melang 2020, kami akan memberi slot khusus untuk kuliner berbahan Sagu ini. Nanti akan ada konten khusus terkait hal tersebut,” kata Masykur.

Daftar kuliner berbahan Sagu di Anambas bertambah panjang. Sebab, ada rasa gurih yang ditawarkan Kerupuk Atom. Camilan ini memiliki bahan utama seperti Tepung Sagu, Ikan Segar, Gula, Garam, juga lainnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan, potensi Sagu di Pulau Jemaja dan area Anambas harus dioptimalkan.

“Sagu ini bagus bagi Anambas. Jumlahnya besar dan sementara belum tersentuh secara optimal. Dengan sedikit kreativitas, akan ada banyak kuliner dan makanan ringan yang bisa diolah dari Sagu ini. Kalau dilakukan dalam skala besar, tentu ada banyak keuntungan ekonomi bagi daerah dan masyarakatnya. Sagu ini sudah pasti jadi daya tarik bagi pariwisata,” tutup Arief yang juga Menpar Terbaik ASEAN. (*)